Menuju Cahaya Keabadian

Kesal khawatir
“Kan sudah ku bilang, kita harus datang lebih pagi untuk mendapatkan cahaya keabadian itu!” — ia berjalan dengan tergesa, mencoba mengatur emosinya—“Aku sudah bilang padamu, jangan tidur terlalu malam. Kau malah asyik ngobrol dengan para kelinci itu. Kita kesini bukan untuk liburan, kita kesini untuk mencari obat demi kesembuhanmu dan keluarga kita!” Gumi, si kucing kecil berwarna hitam itu terus mengoceh.
Sementara sahabatnya, Choco kucing putih bercorak coklat yang nampak kelelahan dengan mata sendu itu hanya tersenyum ringan dan terus melangkah mengikuti Gumi. Kemudian, dia berhenti menarik nafas dan berkata.
“Heeeiiiii aku tidak percaya dengan semua itu. Sakit perut ini tidak bisa diobati dengan cara apapun. Lihat mataku ! Merah ! Banyak sekali kotoran. Manusia menyebutnya… Ca…ci…ngan… Ini tidak bisa disembuhkan.”
Gumi ikut berhenti dan membalikan badannya.
“Kau… hah! Sudahlah cepat ikuti aku!” Gumi kembali berjalan.
Mereka terus berjalan mengikuti jalan setapak yang dipenuhi dengan rumput-rumput besar. Kaki mereka terasa tidak nyaman. Mereka melompat lompat ingin segera mengakhiri ketidak nyamanan itu. Selama berhari-hari mereka hanya berjalan di hutan rumput besar itu. Tidak tau kemana dan bagaimana. Hanya sebuah harapan yang terus menguatkan Gumi dan Choco. Namun, semakin lama terasa semakin berat.
Malam kemarin saat mereka beristirahat, mereka bertemu dengan para kelinci yang tinggal di hutan ini. Gumi dan Choco diberi tahu bahwa perjalanan mereka akan segera berakhir karena Lokasi cahaya keabadian sudah dekat. Hal ini membuat kepercayaan diri mereka tergugah kembali. Khususnya Gumi. Gumi pun segera beisitirahat karena esok ia ingin segera menemukan cahaya keabadian tepat waktu. Tapi, Choco malah asyik ngobrol sampai malam sekali dan membuat dia sulit dibangunkan.
Saat berjalan, Gumi berhenti sejenak dan melihat sekitar, Gumi akhirnya melihat jalan besar, di ujung jalan itu tampak belokan yang terhalang batu. Batu nya sangat besar hingga jalannya terhalang setengah oleh batu itu. Gumi teringat kata kakeknya. Bahwa cahaya keabadian akan muncul dibalik batu itu. Gumi tersenyum riang merasa bahwa usahanya selama ini tidak sia-sia dan dia berhasil. Sebab, sudah berminggu-minggu mereka berjalan mencari cahaya keabadian. Mereka pergi dari rumah manusia yang mereka cintai, demi bisa sembuh dan hidup lebih lama bersama manusia itu.
Menurut legenda yang kakek nya ceritakan Cahaya itu hanya akan muncul pada pagi hari disertai dengan munculnya peri peri kecil dan nyanyian burung yang indah. Tiada yang tau waktu tepatnya cahaya keabadian itu akan muncul. Dan kalian harus tau, di ujung cahaya itu ada satu kolam dengan air sangat jernih dan menyegarkan, yang bisa membuatmu tetap muda dan menyembuhkan segala penyakit yang ada di dunia.
Sungguh sebuah solusi yang sangat mudah bukan? Tapi, perjalanan Gumi dan Choco tidak mudah. Selama perjalanan itu, banyak hal yang telah terjadi. Beberapa kali Choco pingsan karena kelelahan, Choco tidak mau makan atau pun minum, tapi Gumi selalu memberi semangat dan memberikan hasil buruan nya demi Choco. Mereka juga bertemu dengan berbagai hewan lain dan banyak yang bilang kalau cahaya keabadian itu hanya kebohongan belaka demi memberi harapan kepada para kucing atau hewan yang sekarat seperti Choco. Akhirnya Choco mulai pasrah dengan apa yang ia cari, ia tidak terlalu berharap dan dia hanya ingin menikmati masa-masa hidupnya ini dengan Gumi. Tetapi, Gumi tetap percaya dengan Cahaya keabadian itu. Dia ingin hidup lebih lama bersama Choco dan keluarganya yang lain. Terutama manusia yang sangat ia cintai. Gumi telah berjanji padanya untuk hidup lama dan mendampingi manusia itu. Sampai manusia itu punya anak dan cucu, sampai manusia itu pergi ke dalam tanah, Gumi juga akan ikut ke dalam tanah.
…….
Satu Tahun yang lalu
Sebuah tangan manusia melemparkan karung ke dalam selokan kering di tengah malam. Udaranya begitu dingin dan perlakuan tangan itu sangat dingin sampai melukai hati ini. Pagi harinya, terdengar tangisan anak-anak kucing yang entah darimana munculnya. Manusia lain mencari dan terus mencari dan mencari asal muasal tangisan anak anak kucing itu. Kemudian, sudut matanya melihat karung bergerak gerak menggeliat, ia berlari dan masuk ke dalam selokan kering itu dan membuka karungnya. Terlihatlah Gumi dan saudara-sudaranya. Manusia itu, bergegas membawa Gumi dan para saudaranya ke rumahnya. Gumi mengingat jelas semua kejadian itu. Di rumah manusia itu sudah ada bayi kucing lain, iya! Dia adalah Choco.
“Semuanya akan baik-baik saja.” Ungkap manusia itu
Gumi tertidur. Gumi dan saudaranya di urus dengan baik oleh manusia itu, diberikan makanan, susu, bahkan tempat untuk membuang kotoran. Wah hidup mereka nyaman. Tapi, satu persatu saudara Gumi malah pergi masuk ke tanah, Gumi tidak mengerti. Ia melihat manusianya terus mengeluarkan air dari matanya. Gumi pikir itu hanya kelebihan manusia, atau manusia itu punya banyak air di kepalanya dan mengeluarkannya karena takut kepenuhan. Saudara-saudara Gumi tidak pernah kembali. Gumi tidak mempermasalahkan itu, dia hanya terus makan dan tentu saja karena dia punya Choco untuk di ajak main, adik-adiknya Choco juga Kakek Putih, kucing besar berbulu tebal yang punya mata dua warna disana. Gumi tidak kesepian. Hari-hari terus berlalu, Gumi mulai tumbuh dan sehat. Tetapi, Choco dan adiknya malah kurus. Mereka mulai tidak nafsu makan dan tidak terlalu ceria. Manusia saat itu mulai menyadari apa yang terjadi, tetapi terlambat, adik nya Choco tidak bisa diselamatkan. Manusia cantik itu kini mengeluarkan air lagi dari matanya.
Di sisi lain. Manusia itu terus berusaha agar Choco bisa selamat. Choco cukup kuat dan dia bisa bertahan dengan keren. Tetapi, itu tidak bisa membuat dia sembuh sepenuhnya dari penyakit cacingan itu. Gumi dan para kucing lainnya berusaha agar mereka bisa hidup lebih lama dan bahagia bersama manusia.
Di tengah riuhnya kesedihan manusia itu. Kakek Putih akhirnya menceritakan legenda yang selama ini kakek Putih tahan. Kakek putih berkata, bahwa semua penyakit bisa di sembuhkan dengan air ajaib di ujung cahaya keabadian. Cahaya itu akan ditemukan dibelakang batu besar diujung jalan. Dan kamu beruntung jika bisa bertemu para peri kecil. Peri-peri itu akan membantu para pemburu cahaya keabadian selama para pemburu itu mempunyai sifat baik. Tapi jika tidak, tidak akan ada apa pun. Seketika legenda itu bagaikan cahaya di kegelapan. Mata Gumi membesar, rasa semangat berkobar dihatinya. Tak lama setelah Legenda itu selesai di ungkapkan. Gumi kemudian segera bersiap dan mengajak Choco untuk pergi bersama. Kakek putih hanya mengangguk kagum dengan kepercayaan Gumi. Gumi berusaha mengajak Choco dan sedikit memaksa. Awalnya Choco tidak yakin dengan pilihan Gumi, tapi di dalam hatinya ia juga berharap bisa hidup lebih lama dan tidak ingin manusia itu mengeluarkan air lagi dari matanya. Choco melihat itu nampak menyakitkan. Mereka akhirnya memutuskan untuk berangkat. Dengan hanya berpamitan pada kakek putih. Mereka pergi penuh semangat mencari sebuah harapan.
…….
Saat ini
Gumi berlari, dan terus menoleh kebelakang berharap Choco mengikutinya. Ia sangat senang akhirnya batu besar itu semakin dekat dan terasa pula batu itu ternyata amat besar. Ia terengah-engah dan menengok kebelakang Choco masih berlari dengan lemah. Senyumnya lebar, Gumi menunggu dengan tidak sabar. Choco berlari tapi nafasnya sangat berat, Gumi tidak sadar berapa lemah Choco saat ini. Saat Choco mulai mendekat. Gumi mulai melangkah perlahan menuju ke balik batu besar itu. Ia tidak sadar betapa rapuhnya Choco, ia hanya Fokus pada air dan cahaya keabadian itu. Dengan perasaan yang membuncah, air matanya hampir jatuh, perasaan bahagia yang tidak bisa digambarkan memenuhi hati dan kepala Gumi. Saat kepalanya mulai melewati Batu besar itu, Waktu terasa melambat, Gumi perlahan melihat cahaya itu, cahaya hangat yang melewati sela-sela pohon rindang di hutan itu. Hatinya berdebar-debar menggebu ingin mencari air nya. Air penyembuh segala penyakit. Ia bergegas berlari. Matanya berlari kesana kemari mencari Pusat keabadian itu.
Sementara itu Choco berada di belakang Gumi juga melihat Cahaya itu, senyumnya lebar, harapannya kini tumbuh lagi. Ia berusaha berlari menyusul Gumi, tapi Choco terjatuh, rasa sakit di dalam perutnya kini semakin terasa sakit. Ia meringkuk kesakitan tanpa suara, seluruh badannya bergetar menahan sakit. Nafasnya semakin cepat mencoba mengendalikan rasa sakit itu. Choco mencoba meminta tolong pada Gumi. Tapi Choco tak mampu bersuara. Keringat dingin terus mengalir membersamai raut kesakitan yang muncul di wajah Choco. Ditengah pergulatan rasa sakit itu, Ia melihat Gumi berjingkrak-jingkrak di bawah cahaya itu, senyum tipis di antara sakit terurai.
Sementara Gumi menari kegirangan. Kemudian Gumi memanggil-manggil sahabatnya itu untuk segera bergabung dengannya berdiri disana, dibawah cahaya Indah nan hangat itu. Gumi berjingkrak-jingkrak di hiasi cahaya kerlap-kerlip matahari yang memantul dari embun embun yang hinggap di dedaunan. Gumi juga bisa merasakan kehadiran sesuatu tetapi ia amat bahagia dan tidak menghiraukan apapun selain keberhasilan mereka. Tiba-tiba, nyanyian burung-burung disana terdengar semakin jelas, bunyi kerincing para peri juga terasa jelas. Gumi semakin semangat, Gumi terus memanggil-manggil Choco tapi tidak ada jawaban. Jingkrakan Gumi mulai terhenti, kepalanya mencari-cari keberadan Choco. Saat ia menoleh, Choco sedang tergeletak, nafasnya tak karuan. Raut wajah gembira Gumi perlahan berubah menjadi rasa takut dan kehawatiran menjalar hatinya. Segera Gumi berlari menuju Choco. Namun, saat ia akan melangkah berlari menuju Choco, Kakinya melemas. Pandangan matanya yang berlinang air mata tak bisa ia pertahankan. Ia terjatuh menghantam Jalan tanpa peringatan, tangannya berusaha menggapai Choco. Air matanya runtuh bersamaan dengan kesadarannya. Gelap, semuanya gelap.
…….
Choco melihat Gumi terjatuh, Mata merah Choco mulai berair, ia takut, ia sedih, mungkin ini adalah akhirnya. Ia sama sekali tidak bisa bangun. Kaki-kaki kecilnya itu berusaha bergerak, berusaha bangun menuju Gumi, ia begitu kahwatir pada Gumi. Ia terus berusaha mendekatkan dirinya pada Gumi. Tapi rasa sakit itu malah semakin sakit. Ia hampir menyerah, ia sudah tidak tahan. Lalu Ia mulai berdoa pasrah….
“Ya Tuhan, selamatkanlah sahabatku. Ya Tuhan….”
Kesadaran Choco mulai menghilang…. Menggelap dan rasa sakit di tubuhnya mereda…
Berhasil
Tiba-tiba seorang peri kecil dengan cahaya yang mengekor kepadanya juga suara gemerincing membersamai kedatangannya. Peri itu datang kehadapan Choco. Peri kecil itu membawa setetes air, di bantu oleh peri-peri lainnya. Mereka berusaha memberikan setetes air itu kepada Choco. Kemudian, peri-peri lain mengelilinginya membawa banyak cahaya dan menaburkan cahaya cahaya kecil itu ke tubuh Choco. Choco kini mulai melayang, bersamaan dengan itu juga, penglihatan dan pendengarannya mulai menajam kembali. Ia merasakan ringan ditubuhnya, rasa sakitnya menghilang. Tetapi, ia masih belum sadar sepenuhnya. Rasa kantuk tak tertahankan membuat matanya amat berat dan ia tertidur. Tidur dengan lelap.
Peri-peri itu juga menaburkan cahaya-cahaya kecil ajaib itu kepada Gumi. Gumi yang tidak sadarkan diri pun ikut melayang. Namun, tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan sadar. Mereka berdua dibawa menuju ujung cahaya. Peri-peri yang membersamai perjalanan itu terus tersenyum dan tertawa bahagia. Suara gemerincing peri-peri dan juga nyanyian para burung seperti sebuah alunan keberhasilan Gumi dan Choco. Seperti sebuah sambutan kemenangan.
…….
Gumi mulai sadar, melihat sekelilingnya. Ia melihat sosok Choco. Choco menyadari bahwa Gumi sudah siuman.
“Gumi, kau tidak apa-apa?”
“Ohh Choco!!”
Gumi segera beranjak dan memeluk Choco sekuat tenaga. Ia begitu senang sahabatnya baik-baik saja. Namun saat sadar dengan keadaan sekelilingnya ia segera melepaskan pelukannya dan bertanya pada Choco.
“Apa kita berdua sudah mati?”
Choco tertawa dan menjawabnya dengan semangat.
“Tidak, tentu saja tidak. Gumi, kamu berhasil, kita berhasil Gumi. Kita selamat!”
Gumi tersenyum kebingungan dengan apa yang Choco bicarakan. Merekapun duduk bersama dan Choco menjelaskan semuanya pada Gumi. Bahwa mereka telah berhasil berburu cahaya keabadian. Dengan serius Gumi mendengarkan. Perasaannya Campur Aduk, ia juga setengahh tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ia merasa mungkin dirinya telah mati dan ini adalah Surga. Selanjutnya Choco menceritakan bahwa ternyata di ujung cahaya itu bukan kolam air ajaib seperti yang kakek putih ceritakan. Tapi, dunia peri yang sangat indah. Dan di dunia peri ini, segala macam obat dan keajaiban bisa terwujud untuk makhluk-makhluk yang baik. Choco juga menjelaskan bahwa mereka juga beruntung bisa datang di waktu yang bersamaan saat peri-peri berkunjung ke dunia mereka. Choco juga telah meminum air ajaib yang dibawakan oleh Peri itu. Ia kini merasa lebih baik. Namun, untuk menyembuhkan Choco secara menyeluruh para peri itu harus membawa Choco ke dunia mereka sebentar. Choco juga menjelaskan juga kenapa Gumi pingsan saat akan berlari menolong Choco, itu karena Gumi terlalu lama berdiri di bawah Cahaya Keabadian. Efeknya membuat tubuh Gumi jadi tidak sanggup menahan energi dari Cahaya keabadian. Namun, sekarang semuanya baik-baik saja. Dan mereka bisa pulang. Air mata mereka berdua menetes, air mata bahagia yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Mereka berpelukan hangat. Harapan kecil yang di pantik oleh Kakek putih kini menjadi kenyataan.
Kalian juga harus tahu Para Peri juga sanga baik, mereka memberikan Air keabadian yang cukup untuk keluarga Gumi dan Choco di Rumah. Para peri menyembuhkan Choco dan Gumi di dunia mereka agar pengobatannya stabil dan berhasil. Bayangkan betapa indahnya dunia para Peri sampai Gumi merasa dia sudah tiada. Tetapi, perjalanan terus berlanjut.
……
Saatnya pulang
Manusia kecil itu, sedang terduduk melamun, melihat ke arah jalan. Berharap kucing-kucing nya kembali pulang. Sore itu, matahari begitu cerah, ada pula harapan dalam hatinya yang begitu luas, bahwa kucingnya si Gumi dan si Choco akan segera kembali. Angin semilir sejuk melewati tubuhnya, membuat ia menaikan selendang tebal yang diberikan ibunya sebagai kenang-kenangan. Ia menarik nafas dalam-dalam. Sedikit pasrah tapi masih berharap agar segera, Gumi dan Choco pulang dengan keadaan baik.
Selama Gumi dan Choco menghilang Manusia cantik itu, terus mencari Choco dan Gumi kemana-mana. Ke setiap tempat yang mungkin dikunjungi oleh mereka berdua. Bahkan dia sampai berbicara dengan para kucing liar dan hewan lainnya sambil menunjukan foto Gumi dan Coco. Namun, Nihil. Ia merasa sedih. Ia sudah berusaha sangat keras. Tapi, belum ada hasil.
Namun, saat matanya tertunduk, ia melihat di sudut matanya, ada dua kucing yang sedang berlari menuju ke arahnya. Ia segera mengarahkan kepalanya untuk meyakinkan pikirannya. Waktu berjalan melambat lagi. Gumi si kucing hitam dan Choco si kucing putih bercorak coklat itu sedang berlari penuh semangat dengan dilatar belakangi cahaya matahari yang amat indah. Sore itu bagai akhir cerita bahagia, Manusia itu amat senang, merebahkan kedua tangannya menyambut kedua makhluk berbulu kesayangnnya pulang setelah berhari-hari menghilang. Tak henti bibirnya tersenyum penuh haru dan, matanya memburam penuh kebahagiaan. Saat mereka saling mendekat, semuanya menjadi ramai dengan eongan para kucing dan sambutan dari manusia itu…
…………
Semuanya akan baik-baik saja. Teruslah berusaha dan yakin dengan segala mimpimu.
………..
Gumi, Choco dan para kucing yang ada di rumah manusia cantik itu, kini hidup sehat berkat air ajaib yang diberikan para peri. Dan mereka kini bisa menepati janji mereka pada manusia yang telah merawat mereka.
Tamat
Kisah ini terinspirasi dar kucing-kucing milik penulis. Doakan para kucing hidup sehat dan bahagia ya teman-teman.